Menanggapi Masalah ‘Bunuh Diri’

A.PENDAHULUAN

 

  •  Latar Belakang

Perubahan cepat dalam teknologi informasi telah merubah budaya sebagian besar masyarakat dunia, terutama yang tinggal di perkotaan. Kecepatan akses informasi dan transformasi telah mengubah budaya-budaya yang ada. Peningkatan mutu dalam berbagai bidang memaksa kita bekerja lebih keras untuk menyetarakan diri atau menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Budaya konsumerisme dan hedonisme,telah menjangkit banyak orang dari berbagai lapisan. Banyak masyarakat yang mampu mencapai gaya hidup seperti itu dan bertahan dalam kondisi yang sama dalam jangka waktu yang panjang,namun ada pula masyarakat yang tak mampu bertahan sehingga mereka banyak memilih jalan yang salah,putus asa dan memilih jalan instan untuk mengatasi masalahnya.Menciptakan sebuah budaya dalam menyelesaikan masalah,budaya ‘bunuh diri’ yang sekarang ini semakin marak saja.Berita tentang kasus bunuh diri yang sering kita dengar adalah di negara Jepang.Namun perlu diketahui bahwa Korea Selatan menduduki peringkat tertinggi kasus bunuh diri di dunia. Banyak alasan mengapa orang-orang melakukan hal itu,meskipun begitu dalam tindakan ini terdapat suatu alasan-alasan yang perlu diketahui.Sadar atau tidak,saat ini bunuh diri seolah telah menjadi budaya bagi sebagian masyarakat,khususnya masyarakat pada abad ini.Akan sangat menarik apabila kita telusuri lebih lanjut tentang masalah ini,mulai dari penyebabnya sampai perkembangannya diluar ataupun dalam negeri.

  •  Perumusan Masalah

Masalah yang dapat dirumuskan diantaranya : motif-motif bunuh diri,akibat yang ditimbulkan dan perkembangan kasus bunuh diri di 3 negara berbeda.

B.PEMBAHASAN

 

  • Bunuh Diri Sebagai Tradisi (Budaya) di Jepang

Harakiri atau bunuh diri ala jepang menjadi salah satu tradisi dari negara ini. Harakiri dilakukan dengan cara menusukan samurai ke perut sang pelaku hingga tewas akan tetapi, tradisi ini makin berkembang dengan beragam cara, mulai dari menusukkan samurai, menenggak racun, gantung diri, menabrakan diri di kereta, hingga loncat dari ketinggian tertentu yang mematikan.Bahkan di tahun 1945 saat Perang Dunia ke-II, Harakiri berkembang menjadi sebuah adegan yang lebih dahsyat. Para pilot jepang menabrakan dirinya ke kapal-kapal sekutu untuk menghambat pergerakan musuh yang semakin dekat ke Jepang. Gerakan ini dikenal dengan nama Kamikaze (angin yang besar). Kamikaze – pun tiada lain adalah harakiri yang diwujudkan dalam bentuk super “heroik”.

Terlepas dari pandangan bahwa tindakan bunuh diri adalah pebuatan tidak baik dan tidak wajar. Harakiri menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk ‘dikaji’ karena terdapat nilai yang terkandung di dalamnya.Setidaknya ada tiga motif dibalik bunuh diri ini :

Harga Diri.

Para samurai dulu melakukan bunuh diri demi menjaga harga dirinya. Tindakan kamikaze di saat Perang Dunia II pun dapat digolongkan dalam motif ini. Jepang tidak ingin sejengkal pun tanah mereka di injak oleh AS dan sekutunya, sehingga dengan cara apapun, pergerakan musuh mereka harus ditahan. Kisah pertempuran di Iwojima (Letters from Iwojima) menunjukkan heroisme tentara Jepang yang melakukan pertempuran hingga titik tenaga dan titik darah terakhir mereka. Sebagai contohnya ada dalam film “The Last Samurai”, Ken Watanabe yang berperan sebagai seorang samurai melakukan adegan harakiri demi menjaga harga dirinya ketimbang bertekuk lutut pada tentara.Bahkan para korban-korban harakiri tersebut mendapatkan penghormatan yang besar dari masyarakat, termasuk dari orang yang pada masa hidup tidak menyukainya.

Motif Malu

Motif ini paling dominan dilakukan oleh pelaku harakiri di masa kini. Motif “tidak bisa menahan malu” dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pejabat, akademisi, hingga rakyat biasa. Tahun 2007 jajaran Kabinet Shinzo Abe (Perdana Menteri Jepang pengganti Koizumi) dikejutkan dengan tewasnya Menteri Pertanian mereka akibat kasus bunuh diri. Diyakini, tindakan tersebut dilakukan karena Sang Menteri tidak bisa menahan malu akibat skandal kasus korupsi yang diduga (masih dugaan) membelitnya. Di tahun yang 2006, seorang professor (associate) tewas bunuh diri di dalam laboratoriumnya (Osaka University) yang diduga melakuka pemalsuan data risetnya dalam sebuah jurnal ilmiah terkemuka dibidang bioscience. Kasusnya kemudian diangkat Majalah Nature, majalah nomor satu dalam bidang science, dalam sebuah artikel “Mysteri surrounds lab death”
Kelompok pelaku bunuh diri ini didorong oleh ketidak mampuan mereka menahan malu akibat kasus-kasus yang menimpanya.

Motif Balas Dendam

Pada kasus ini, biasanya dilakukan oleh seseorang yang kecewa pada keluarganya. Misal seorang anak yang merasa tidak diperlakukan adil, dan lain sebagainya. Tindakan bunuh diri dilakukan dengan menabrakan diri pada kereta api. Dengan tindakan seperti ini, umumnya keluarga pelaku akan kerepotan karena dikenai tuntutan mengganggu ketertiban umum. Keluarga pelaku akan dituntut membayar ganti rugi oleh perusahaan kereta akibat keterlambatan yang disebabkan oleh peristiwa tabrakan tersebut. Bukan hanya itu, keluarga pelaku juga harus menanggung kerugian dan meminta maaf pada semua penumpang yang merasa dirugikan dengan kejadian ini. Repotnya keluarga inilah mungkin yang dimaksudkan dengan upaya “balas dendam” si pelaku.

Namun seiring perkembangan jaman,motif-motif tersebut bisa bertambah atau berubah.Alasan-alasan itu diantaranya

a.Masalah Sekolah (Prestasi akademik yang kurang)

b.Masalah Keluarga (Broken Home)

c.Problem pekerjaan dan finansial (Pengangguran dan penghasilan rendah)

d.Penyakit

  • Kasus Bunuh diri

Berdasarkan data dari Kepolisian Jepang, angka bunuh diri di Jepang, terbilang sangat mencengangkan, sekitar 32.552 orang untuk tahun 2005 atau 24 kasus per 100.000 penduduk. Tidak terlalu jauh dengan tahun tahun sebelumnya, masih di kisaran angka 30 ribuan.

Kalau kita film Jepang yang berseting jaman samurai, biasanya sangat umum dijumpai adegan bunuh diri yang disebut Seppuku. yaitu merobek perut sendiri dengan menggunakan katana berukuran pendek. Tindakan ini biasanya dilakukan karena alasan harga diri, tanggung jawab karena gagal dalam tugas, kalah dalam peperangan sehingga sebelum dipermalukan karena akan ditangkap oleh pihak musuh, para pemimpinnya umum melakukan tindakan bunuh diri.

Seppuku dalam kondisi terdesak bisa dilakukan dengan instan, namun dalam kasus standard, umumnya dilakukan dengan ritual yang cukup panjang. Pelaku seppuku akan melakukannya dalam kondisi bersih, baik badan dengan cara mandi maupun pakaian yang serba putih. Ritual ini tidak dilakukan seorang diri namun disaksikan oleh sejumlah orang serta di belakang pelaku juga berdiri seorang asistent yang bertugas untuk memenggal kepala si korban untuk menghindari penderitaan yang berkepanjangan.

Walaupun ritual seppuku sudah resmi dilarang sejak tahun 1873 atau pada masa Restorasi Meiji tapi belasan kasus masih tetap terjadi. Kasus terakhir yang paling terkenal dilakukan pada tahun 1970 oleh seorang sastrawan bernama Yukio Mishima. Motifnya adalah berkaitan dengan politik.Dari sisi gender, sebagian besar dari pelaku sempuku adalah pria, namun tidak jarang umumnya juga akan disusul oleh pihak wanita, kalau mereka sudah berkeluarga.

Pada masa sekarang, golongan pelaku bunuh diri terbesar masih tetap dinominasi oleh golongan pria yaitu berkisar 70 % (data tahun 2007 =71%, 2009 =72%, sumber : Mainichi Daily News). Sedangkan kalau dibagi menurut wilayah, kasus tertinggi umumnya terjadi di kota besar yaitu Tokyo.Kemudian dari segi umur, kebanyakan adalah berusia setengah baya atau rata rata berkisar umur 50 tahun ke atas. Pelaku remaja, terlebih lagi anak anak relatif jarang ditemukan.

Perlu diketahui bahwa Korea Selatan menduduki peringkat tertinggi kasus bunuh diri di dunia, demikian laporan Badan Kepolisian Nasional Korea yang baru-baru ini dirilis.Tahun 2009, jumlah kasus bunuh diri mencapai 14.579, yang menunjukkan peningkatan 18,8 persen dari 12.270 kasus tahun 2008, kata laporan itu.Ini berarti tingkat bunuh diri tahun 2009 adalah 29,9 persen untuk setiap 100.000 orang. Total populasi Korea Selatan adalah 48.746.693 jiwa.Angka ini bahkan lebih tinggi dari yang dirilis baru-baru ini dalam OECD Factbook 2010.Data OECD Factbook 2010 menunjukkan 21,5 persen kasus bunuh diri dari setiap 100.000 orang. Dari data ini saja, Korea menduduki peringkat tertinggi kasus bunuh diri dari 31 negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).Sedangkan Jepang menduduki tempat kedua dengan 19,1 persen kasus bunuh diri dari setiap 100.000 orang.

Menurut laporan kepolisian, paling banyak penyebab kasus bunuh diri adalah masalah “psikologis/psikiatris” dengan 28,28 persen, diikuti masalah “fisik/penyakit” dengan 21,88 persen, dan akhir masalah ekonomi dengan 16,17 persen.Mereka di atas 61 tahun merupakan kelompok paling rentan untuk melakukan bunuh diri dengan 31,65 persen, diikuti oleh kelompok usia 41-50 dengan 19,0 persen. Kelompok usia 31-40 menunjukkan 17,2 persen, sedangkan kelompok usia 51-16 dengan 16,65 persen.

Kasus bunuh diri di Jepang sering menjadi sorotan dari banyak orang namun kita sering lupa bahwa sebenarnya kasus bunuh diri ini juga cukup banyak terjadi di Indonesia. Kasus ini seakan lepas dari sorotan mungkin salah satunya karena tidak adanya informasi yang transparan tentang hal ini.

Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, A Prayitno menyebutkan, berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50.000 kasus bunuh diri di Indonesia. Jadi kalau di rata ratakan adalah sekitar 16.600 an kasus pertahun atau 7,41 orang per 100.000 penduduk. Masih lebih rendah dari kasus di Jepang yaitu 24 orang per 100.000 penduduk. Sedangkan angka rata rata kasus bunuh diri di dunia (kalau tidak salah) adalah 14.5 orang per 100.000 penduduk.

Jumlah yang tentu saja kecil kalau dibandingkan dengan kasus di negara Jepang. Namun perlu dicatat bahwa jumlah ini belum termasuk korban yang meninggal akibat overdosis obat terlarang dan sejenisnya. Jadi kalau semua angka digabungkan maka jumlahnya akan menjadi fantastis.Satu satunya daerah yang bisa memberikan data paling lengkap adalah Bali dan Jakarta, yang mencatat sebagai berikut.

  1. Untuk daerah Bali pada periode Januari hingga 22 September 2005 yang mencapai 115 kasus bunuh diri, sedikit lebih rendah dari angka tahun sebelumnya (2004) yaitu tercatat 121. Dari rentang umur tercatat 82 pria (71%) dan perempuan 33 orang (29%). Sedangkan pelaku bunuh diri dari kelompok anak-anak usia 7 s/d 15 tahun tercatat ada 8 orang, usia lanjut juga 8 orang.
  2. Sedangkan untuk daerah Jakarta sepanjang 1995 s/d 2004 mencapai 5,8 orang per 100.000 penduduk. Kalau diasumsikan penduduk Jakarta adalah 7,72 juta jiwa (data tahun 2000 menurut sumber BPS DKI ) maka akan didapat angka sekitar 563 orang pertahun, Masih untuk kasus di Jakarta, mayoritas pelaku adalah kaum pria. Dari 1.119 korban bunuh diri, 41% di antaranya gantung diri, 23% dengan minum racun dan 256 sisanya overdosis.
  3. Sumber dari site Menkokesra ( www.menkokesra.co.id ) mencatat data lain sebagai berikut : “Berdasarkan data forensik FKUI/RSCM 1995-2004 terdapat 771 orang laki-laki bunuh diri dan 348 perempuan, jadi perbandingannya adalah sekitar 68% pria dan 32% wanita. Dari jumlah tersebut, 41% melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri, dengan menggunakan insektisida 23% dan overdosis mencapai 356 orang . . . . . “

Untuk daerah lain nyaris tidak terdengar namun tentu saja bukan berarti tidak ada. Kalau seandainya berdasarkan data di atas yaitu 16.600 an kasus bunuh diri di Indonesia pertahun, kita kurangi dengan kasus yang ada di Bali dan Jakarta, serta dibagi 31 propinsi (minus Bali dan Jakarta), maka akan didapat angka sekitar 500 orang pertahun untuk setiap provinsi. Tentu bukan merupakan angka yang bisa dibilang kecil.

Kasus bunuh diri bisa jadi jumlahnya kecil di Indonesia, namun untuk kasus bunuh diri dengan menggunakan bahan peledak atau dengan kata lain juga berarti membunuh orang lain, kasusnya relatif tinggi di negara kita. Kasus ini sepertinya cukup menghawatirkan karena bunuh diri cara ini akan memakan korban orang lain yang nyaris tidak ada sangkut pautnya dengan si pelaku.Bunuh diri seperti halnya dengan korupsi, adalah merupakan masalah yang tidak sederhana dan bisa terjadi di negara mana saja tidak hanya sebatas di negara jepang saja tapi juga (tanpa kita sadari) juga terjadi di Indonesia. Disamping karena alasan mental, masalah lain seperti lingkungan, keluarga, kelompok, masyarakat dan juga budaya ikut mempengaruhi.

  • Masalah Yang Ditimbulkan

Karena banyaknya warga bunuh diri dan menderita depresi, ekonomi Jepang tahun lalu merugi hampir 2,7 triliun yen, atau sekitar Rp288,4 triliun. Kerugian ini merujuk pada hilangnya pendapatan dan biaya perawatan. Hal ini berasal data pemerintah Jepang, Selasa 7 September 2010. Menurut laman stasiun televisi BBC, ini merupakan kali pertama pemerintah Jepang mengungkapkan kerugian ekonomi akibat bunuh diri dan depresi. Tahun lalu, jumlah bunuh diri di Jepang mencapai sekitar 32.000 kasus.

Pemerintah pun berencana membentuk satuan tugas untuk mengurangi kasus bunuh diri, yang sudah menjadi “penyakit sosial” bagi masyarakat Jepang. Sejak dahulu, bunuh diri dianggap masyarakat di Jepang sebagai jalan terakhir untuk mengatasi tekanan dan masalah yang dihadapi ketimbang merasa terhina.

Kasus bunuh diri di Negeri Matahari Terbit itu dari tahun ke tahun terus meningkat. “Dalam 12 tahun berturut-turut, jumlah rata-rata kasus bunuh diri sudah melebihi 30.000 kasus. Ini merupakan masalah yang harus ditangani serius oleh seluruh bangsa,” demikian pernyataan Kementrian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.

Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, melihat masalah ini menjadi bukti bahwa bangsanya mengalami masalah ekonomi dan emosional. “Ada banyak penyebab bunuh diri. Mengurangi tingkat kasus itu akan menjadi suatu cara untuk menciptakan masyarakat dengan meminimalkan tingkat keresahan,” kata Kan.

Menurut studi pemerintah, mereka yang tahun lalu bunuh diri – yaitu sebanyak 26.500 orang – berusia antara 15 tahun hingga 69 tahun. Maka, mereka sebenarnya masih dalam kelompok usia produktif dan bisa mendatangkan pendapatan sekitar 1,9 triliun yen hingga mencapai usia pensiun.

Bunuh diri dapat menimbulkan berkurangnya angka penduduk produktif di suatu negara,menimbulkan pola pikir yang salah dalam menyelesaikan masalah,meresahkan keluarga dan orang-orang yang ada disekitar kita,dll.

C.PENUTUP

Fenomena kasus bunuh diri terutama dikalangan remaja menjadi masalah yang patut untuk dikaji dan diselesaikan.Bunuh diri pada anak dan remaja sering berhubungan dengan stresor yang terjadi sesaat dan  kondisi serta beberapa faktor penentu ternyata menjadi penyebab munculnya kasus bunuh diri dikalangan remaja.Belakangan, kasus bunuh diri di kalangan remaja belakangan mulai meningkat, sehingga hal ini perlu di atasi, salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan cara pendekatan psikologi komunikasi melalui para remaja. Melalui pendekatan psikologi komunikasi diharapkan kasus bunuh diri dikalangan remaja dapat diselesaikan secara tepat berdasarkan teori – teori yang ada dalam psikologi komunikasi serta perlu diberi tambahan pembekalan agama.Diperlukan juga langkah untuk menghentikan budaya bunuh diri sebagai jalan penyelesaian suatu masalah.

*disusun dengan berbagai sumber referensi

The harakiri of the mujahedin (weekly review)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s